Keluarga Kecilnya EQ

Assalamualaikum……. :)

Dika Dan Hernia Umbilikal

Semenjak Dika lahir 17 Mei 2011 lalu, oleh DSA(dokter spesialis anak)nya sudah diberi tau bahwa ada tonjolan di pusarnya dan biasa disebut Hernia Pusar/Hernia Umbilikal.

Pertama-tama yang terbersit di benak saya adalah “Hernia itu bisa menurun juga kali ya??”, tapi karena mungkin saya juga pernah mengalami hernia (baca postingan ini), jadinya saat itu tidak terlalu was-was.

Hernia umbilikal ini terlihat sekali ketika Dika menangis, jadi menonjol seperti ada kelereng di dalamnya, tapi Dika tidak merasakan sakit apa-apa akibat hernia ini, semua perkembangnnya Alhamdulillah normal saja.

DSAnya memberitahu bahwa biasanya hernia ini menutup sendiri sampai usia 1 tahun, jadi tunggu dulu nih sampe setahun baru diliat lagi perlu tidaknya operasi koreksi. Beliau menyarankan untuk pakai ikat pinggang khusus hernia ,suruh cari di baby shop aja katanya.

Setelah browsing sana-sini, banyak yang tidak menjual ikat pinggang itu, coba cari-cari di apotik akhirnya ada yang jual ikat pinggang itu di Apotik Melawai. Langsung saya telpon apotik tersebut di cabang margonda dan ternyata ada ,Rp 95ribu (sekitaran segitu lah :D), merknya: MAKIDA (kotaknya warna kuning -hijau, ada gambar bayi dengan ikat pinggang itu,sedang minum susu botol).  Ikat pinggang ini berfungsi untuk menahan agar si pusar tidak menonjol keluar. Ada ukuran S-M-L. Waktu itu Dika yang ukuran S.

Awal-awal saya rajin memakaikannya, tetapi lama-lama suka malas juga karena kadang suka ikutan basah kalau si Dika pipis/pup. Seiring dengan semakin lincahnya Dika,  ikat pinggang itu jadi semakin mudah untuk bergeser dan semakin jarang saya memakaikannya. Walhasil,  Ayahnya Dika suka ngeri-ngeri gimanaaa gitu, melihat pusar Dika maju ke depan ketika ia berdiri/menangis…he he he.

Nah, sampai ketika Dika sudah berusia 1 tahun, saya dan suami sudah berencana mau ke DSA itu lagi,untuk kontrol hernia nya tapi entah kenapa selalu tertunda.

Akhirnya mungkin Allah swt juga yang “memaksa” kami untuk segera ke dokter, Dika demam tinggi >39’C. Setelah 3 hari demam, kami membawanya ke DSA tsb. Karena Dika tidak mau makan ..bahkan di hari ke-3 itu ditambah tidak mau minum sama sekali, akhirnya Dika di opname.😦 . Ada hikmahnya juga sih, saat itu saya bertanya ke DSA mengenai hernia Dika dan beliau kemudian merujuk ke dokter bedah dari RSCM, dr. Yani daaaan yang lebih menyenangkan lagi, kami tidak usah ke RSCM karena kebetulan dr.Yani itu juga mau memeriksa salah satu pasiennya di RS tempat Dika dirawat.

Tibalah saat dr.Yani (yang diluar perkiraan saya,ternyata beliau seorang pria :D) berkunjung ke kamar Dika, beliau memeriksa dengan menekan pusar Dika dengan telunjuknya dan berkata “Hernianya/cincinnya masih belum terlalu besar” dan beliau ingin mengobservasi lagi sampai usia 2 tahun…tapiii selama itu, pusar Dika harus ditutup sama uang logam. Oalaaaaah, sebenernya sudah lama sih dengar tentang metode itu, tapi bingung pada penerapannya karena kalau ditutup plester perban biasa, kan bisa basah kena air (payahnya lagi, saya juga ga ada usaha browsing2 mengenai cara ini…coba sudah tau dari dulu,mungkin hernianya sudah mengecil….hiks..).

Jadi diajarin sama dr.Yani:  uang koin (kalau ada sih uang Rp 100 jaman dulu yang gambar wayang itu ,tipis dan tidak terlalu berat) dibungkus kain yang lembut (saya pakai flanel) direkatkan pakai plester perban micropore, taruh di pusar sambil agak ditekan, kemudian tutup lagi deh sama plester transparan dan waterproof (merk: Tegaderm, yang paling pas ukuran 1624W). Diganti sekitar 3 hari sekali. Oya, memasangnya pas si anak sedang tidur yah, biar maksimal menekannya.

Yup, hasilnya seperti pusar Dika lagi luka dan diperban. Tak sedikit orang yang melihatnya, mengernyit dan bertanya “udelnya kenapa?”😀.

Saat ini saya mencoba selalu memasang koin itu tanpa absen walau kadang Dika suka iseng mncoba membukanya…berharap si hernia bisa dengan sopan menutup sedikit  demi sedikit :p, atau paling tidak menahan agar tidak menonjol dan memperkecil resiko “kejepit”. Mohon doanya ya teman-teman🙂.

 

Single Post Navigation

8 thoughts on “Dika Dan Hernia Umbilikal

  1. Info yg bermanfaat. Selama ini gak pernah tau ada hernia di pusar. Semoga segera teratasi & sembuh ya…

  2. Fidya, apa semua udel yg nonjol banget itu berarti hernia pusar? Soalnya kok ceritanya mirip cerita mertua tentang suamiku pas bayi dulu, trus ya itu metodenya pake uang logam gitu. Nggak tahu sih senonjol apa, tapi sekarang bagus aja tuh bentuknya…masuk ke dalam (ya seperti umumnya udel). Hehe maaf penasaran aja nih…

    -Heidy-

    • Bisa jadi itu hernia bu atau suka dibilang udel bodong ya🙂 . kalau di treatment dari bayi bisa lebih cepat penutupan hernia nya , sehingga nggak nonjol lagi. Ya si dokternya sendiri bilang sih, walau cara itu (pake koin) ga ada dlm literatur kedokteran, tapi itu ternyata cukup ampuh membantu penutupan, jika diameter hernianya tdk terlalu besar. 🙂 ternyata cara tradisional ada kalanya bisa kita ikutin ya,ga sepenuhnya harus dihindari..hehe.

  3. Gimana hasilnya, Mbak?
    Ukuran besar atau kecilnya itu gimana ya, Mbak? Lebarnya atau tinggi tonjolannya, atau gimana?

    Makasih ya, Mbak..

  4. kelihatannya membaik kan, Mbak?

    semoga lekas sembuh dan ga perlu operasi ya, Mbak..

    update lagi yaa.. *smile*

    • Sampe sekarang belum mbak. lha wong anaknya ga mau di plester..dilepas terus ama dia. emang harusnya waktu masih bayi sih…😦. terima kasih doanya ya mbak… ini belum kontrol lagi sih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: