Keluarga Kecilnya EQ

Assalamualaikum……. :)

Menangislah

Alhamdulillah akhirnya bisa buka blog ini lagi dan menemukan artikel yang ditulis pak Jamil sekitar seminggu lalu di http://www.jamilazzaini.com. Saya yakin semua manusia pasti pernah mengalami hal seperti yang dialami pak Jamil tsb. Saya copas aja isinya ya, semoga bisa membuka hati kita untuk selalu ingat kepada NYA.

Istri dan anak saya tahu bahwa saya sangat gampang menangis. Namun dua pekan terakhir saya sangat sulit menangis saat teringat dosa yang pernah saya lakukan. Waktu favorit menjelang Subuh pun tak sanggup membuat saya menangis lagi. Penyesalan mendalam atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan tak juga kuasa membuat air mata tertumpah.

Dalam kondisi seperti ini, saya teringat pesan guru saya. “Jamil, jika kamu sulit menangis saat ingat maksiat yang kamu perbuat, itu pertanda hatimu mulai sombong.”

Saya terus mencari kira-kira bentuk kesombongan apa yang sudah hadir di hati saya sehingga membuat saya sulit menangis. Karena sulit menemukannya, Senin hingga Selasa kemarin saya putuskan pulang ke Lampung menemui orang tua, kakak dan adik saya.

Seperti biasa, setiap saya “pulang kampung” adik atau ibu memasak makanan kesukaan saya plus empek-empek Palembang. Penganan itu kami santap bersama sembari ngobrol kesana kemari di dapur.

Tanpa terasa malam pun tiba. Setelah lewat pukul 22, saya ngobrol berdua saja dengan ibu. Kami bertukar cerita mulai dari gosip eyang Subur, ujian nasional hingga aktivitas profesi yang saya lakukan.

Di sela-sela obrolan itu saya menangkap satu pesan penting dari ibu. “Jika kita merasa hebat maka ketergantungan kita kepada Allah berkurang dan hal itu menjadikan benih kesombongan akan tumbuh subur di dalam hati.”

Jleb! Jleb! Pesan itu tepat menusuk ke dalam hati saya. Akhirnya, saya merenung. “Hal apa yang membuat saya merasa hebat dalam dua pekan terakhir?” Jawabannya: Kaderisasi trainer dan buku terbaru “ON”.

Begitu banyak trainer yang saya kader kebanjiran order, buku-buku karya mereka banyak yang best seler. Saya pun membanggakan diri, “Siapa dulu dong yang mengkader?”

Begitu pula tentang Buku ON, dalam dua pekan terakhir saya mendapat banyak sekali kiriman testimoni dari para pembaca. Ada yang membuat saya haru, tersenyum tetapi ada juga membuat saya tinggi hati. Akhirnya hatipun berbisik, “Hebat ya saya.”

Ketika semuanya sudah tertidur, Senin malam itu saya menangis. Saya memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dan ketinggian hati ini. Sebelum Subuh saya bangun dan menangis lagi.

“Ya Allah, saya sangatlah lemah. Saya masih sangat membutuhkan pertolongan-Mu, perlindungan-Mu, kasih sayang dan ridho-Mu.”

“Ya Allah, saya juga masih sangat membutuhkan dukungan dan perhatian istri, bidadari hamba di dunia. Saya masih sangat berharap senyuman, pelukan dan sapaan putra-putri hamba. Saya masih memerlukan arahan dan teguran guru kehidupan hamba. Dukungan dari tim kerja dan sahabat juga sangat hamba butuhkan. Tanpa mereka semua, hamba bukanlah siapa-siapa.”

“Ya Allah, saya mengaku bahwa saya masih sangat lemah, oleh karena itu tinggikan kepekaan hamba agar mudah mendeteksi saat kesombongan mulai bertamu ke hati hamba. Namun rendahkanlah hati hamba agar berbagai ilmu yang bermutu sudi bertamu ke dalam pikiran, hati dan jiwa hamba.”

“Terima kasih ya Allah, hari ini saya sudah bisa menangis lagi. Semoga ini bukan air mata buaya tetapi pertanda bahwa kepekaan di dalam hati hamba kembali bekerja…”

Salam SuksesMulia!

 

 

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: